Minggu, 30 Desember 2018

Si Pelupa dan Si Buta

Konon Si Pelupa jatuh dari atas pohon, dia terpelesest saat hendak turun kebawah. Dia lupa kaki mana dulu yang harus ia dahulukan, kaki kanan-kah? Atau kaki kiri-kah?. Saking sakitnya dia tidak bisa menjerit, seluruh badannya seperti ditusuk jarum karena menghadang bebatuan, dia meringgis kesakitan. Lalu datanglah si Buta dengan tongkatnya, dia berjalan pelahan sambil sesekali bersiul. Kebiasaan yang konon jika dia tidak melakukannya, dia akan merasa gelisah; ada-ada aja.

Dia berjalan sambil terus bersiul, emang dasarnya seorang Buta sebagian dari mereka memang tidak bisa mendengar dan berbicara, namun kali ini beda, si Buta ini tidak sama sekali bisu ataupun tuli. Dia sehat seperti halnya oranglain, namun saat dia berjalan dimana si Pelupa terjatuh dia pura-pura tidak mendengar. Dia merasa untuk apa dia menolongnya, toh dia sendiri tidak bisa mlihat siapa dan apa yang meringgis itu. Dia pura-pura tidak peka.

Lalu di lain sisi, si Pelupa terus saja meringgis tanpa berniat minta tolong kepada si Buta. Karena dia merasa bahwa ketika seseorang terjatuh, maka saat itu pula dia harus kembali tangguh untuk berdiri, kemudian dia berdiri meski bersusah payah mengangkat kaki kanannya yang ternyata sedikit bengkok. Patah ternyata.

Si Pelupa terus berjalan terseok-seok, sambil memegang ujung pagar perumahan yang konon saat itu warga sedang tidak ada di rumah mereka. Sementara si Buta, dia tetap berjalan sambil bersiul. Suaranya memang indah, oleh karena nya dia bersiul sangat nyaring sekali. Sesekali si Buta berhenti mendengarkan suara yang berjalan di belakang, yakni si Pelupa.

Lalu tiba-tiba di pertengahan jalan, si Buta berhenti. Dia merasakan bahwa di depannya ada seseorang yang sedang memperhatikan, lalu berkata "Hai Buta! Kenapa kamu biarkan si Pelupa yang sedang meringgis kesakitan itu?", si Buta kaget lalu dia berbalik ke belakang dan nampak si Pelupa juga ikut merasa kaget, dia lupa bahwa si Buta itu bisa Bicara. Lalu kenapa dia terus saja bersiul tanpa berteriak memintakan tolong "untuk-ku" pikir si Pelupa, emang dasar si Pelupa dia selalu tersadrakan setelah orang lain menyadarkannya.

Kemudian mereka berdua berdiri mematung karena sama-sama kaget, lalu pertanyaannya, siapakah disini yang salah?
Lalu jika kau ibaratkan si Pelupa itu seorang wanita yang selalu mengandalkan perasaan dibandingkan logika dan si Buta itu seorang laki-laki yang suka pura-pura tak sadar, apa yang kau pahami dari kisah diatas?

Wanita tidak sama seperti laki-laki yang selalu memberi kode rahasia lalu pura-pura tidak mengerti, wanita itu mempunyai sifat perasa tinggi dibanding laki-laki.


Dia hanya melihat apa yang ingin dia lihat, tapi dia tidak melihat apa yang seharusnya dia lihat. Gitu lho pak Eko maksudnya